Cegah Kanker Prostat dengan TIDAK Minum Soda


Kanker dapat berkembang jika sel-sel dalam prostat mengalami mutasi dan terus berkembang hingga menjadi tumor dan kanker yang sulit dikendalikan. Kanker prostat dapat menyebabkan rasa sakit di sekitar alat kelamin, kesulitan buang air kecil, disfungsi ereksi dan gejala lainnya. Temuan baru menyatakan bahwa pria yang minum segelas atau 11 ons cairan minuman ringan seperti soda setiap hari memiliki risiko mengembangkan suatu bentuk kanker pada prostatnya. Kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di prostat, kelenjar yang berperan dalam sistem reproduksi lelaki.

Para peneliti dari Lund University di Swedia melakukan studi terhadap lebih dari 8.000 pria yang berusia antara 45 sampai 73 tahun. Studi tersebut dilakukan selama periode 15 tahun dan hasilnya diterbitkan dalam American Journal of Clinical Nutrition.

Peneliti menemukan bahwa pria yang diet tinggi glukosa dari makanan berkarbohidrat dapat meningkatkan risiko berkembangnya bentuk ringan dari kanker prostat sebesar 31 persen. Tetapi, sebagian besar kondisi ini tidak memerlukan pengobatan.

Sedangkan pria yang mengonsumsi lebih banyak minuman manis memiliki peningkatan risiko mengembangkan bentuk ringan dari kanker sebanyak 38 persen. Para peneliti mencatat bahwa untuk mengurangi risiko tersebut seseorang perlu mengubah dietnya dengan mengurangi minuman manis seperti soda, yang mengandung kadar tinggi pemanis.

Studi sebelumnya telah mengaitkan bahwa asupan minuman ringan atau soda dalam jumlah yang cukup tinggi dapat menyebabkan osteoarthritis serta meningkatkan risiko stroke pada wanita hingga 83 persen. Studi lain juga menemukan bahwa orang-orang yang minum soda secara rutin sehari sekali memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap kanker prostat.

“Penelitian lebih lanjut tentang bagaimana gen merespons kadar tinggi glukosa dalam makanan atau minuman manis masih perlu dilakukan. Tetapi telah jelas bahwa diet tinggi makanan atau minuman manis berbahaya bagi tubuh karena meningkatkan berbagai macam risiko penyakit,” kata Drake, salah satu peneliti yang terlibat dalam penelitian tersebut, seperti dilansir Medical Daily, Kamis (29/11/2012).
sumber: detik